Ternyata Klaim Fidget Spinner Tak Berdasar

Produsen fidget spinner seringkali mengklaim bahwa mainan populer tersebut mampu meningkatkan perhatian terutama bagi mereka yang mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau hiperaktif impulsif. Tak hanya itu, mereka juga mengklaim dampak positif mainan ini terhadap penderita autis, serta manfaat lainnya seperti melatih fokus dan konsentrasi.

Sayangnya, menurut ulasan yang diterbitkan di Journal Current Opinion in Pediatrics (7/7/2017), tidak ada bukti ilmiah yang bisa mendukung semua klaim tersebut. Seperti dilansir dari LiveScience, Dr. Ruth Milanaik, direktur Cohen Children’s Medical Center di New York bersama koleganya berusaha menelusuri keberadaan riset dengan fidget spinner sebagai obyek penelitian.

Hasilnya, tak ada satu pun riset yang secara khusus meneliti dampak dari mainan ini. Mungkin karena mainan ini terbukti tak berdampak positif terhadap perhatian atau bisa jadi memang belum ada riset yang cukup valid untuk membuktikan kebenaran klaim tersebut.

Tanpa dukungan penelitian ilmiah, semua klaim dari produsen fidget spinner tersebut bisa dibilang tak berdasar dan terlalu berlebihan. Milanaik menegaskan, “Tidak ada bukti ilmiah dibalik asumsi yang menyatakan fidget spinner dapat meningkatkan perhatian. Itu (fidget spinner) cuma mainan, mainan yang menyenangkan.”

http://limaplus101.com/index.php/2017/07/22/smiley-emoji-tertua-berusia-3-700-tahun/

Bantahan atas klaim tersebut juga dikemukakan oleh Dr. David Anderson, seorang psikolog klinis dan direktur senior dari ADHD and Behavioral Disorders Center di Child Mind Institute, New York. Dalam wawancaranya dengan situs Money (11/5/2017), Anderson mengatakan, “Penyakit kejiwaan sangat sulit untuk ditangani dan tidak bisa diselesaikan dengan solusi yang sederhana (seperti fidget spinner).”

Para ahli mengungkapkan bahwa metode penanganannya harus disesuaikan dengan kebutuhan tertentu dari tiap pasien, antara lain meliputi perubahan gaya hidup, perubahan lingkungan pasien dan bahkan pemberian obat.

Baca juga: Benarkah Kolesterol Tinggi Disebabkan Faktor Keturunan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>